Tuesday, December 2, 2014

APA ??

Posted by Karimashita at 10:27 PM
u think? 
0 comments
Apa yang telah disiapkan takdir di depan jalan bagi semua orang?

Apa yang telah dibuat oleh keadaan untuk disampaikan kepada semua orang?

Apa yang diharapkan oleh mimpi untuk dipeluk oleh semua orang?

Apa yang terjadi jika aku tidak seperti yang dirancang logika di masa depan?

Apa yang masuk akal dari sebuah impian yang dilukis dari tumpukan mimpi yang abu-abu?

Apa ?? Apa??

Terlalu banyak “apa” sebelum aku bisa tidur tenang dan tidak bermimpi buruk. Tidak mengkhawatirkan banyak orang atau banyak hal, tidak perlu menjawab semua “apa” yang terucap oleh otak jeniusku. Tidak memikirkan sejuta kemungkinan yang mungkin akan terjadi, yang kebanyakan adalah pikiran buruk, pikiran jahat, pikiran yang disampaikan setan, bukan malaikat.

Memang apa bedanya pesan yang disampaikan setan atau pesan yang disampaikan malaikat? Bukankah terserah padaku untuk mengartikannya?
Lihat, kan, aku kembali mengkhawatirkan tentang “apa”. Tentang bagaimana aku harus menjawab “apa” itu.

Seperti cerita dalam film, alurnya tidak berantakan, rapi dan tersusun dengan baik. Semua pertanyaan tentang “apa” dijawab sedemikian rupa dengan diplomatis dan terorganisir.


Pada akhirnya, kita akan tidur setelahnya, semua “apa” akan dijawab di akhir film. Lalu, bagaimana dengan “apa” ku? Siapa yang nantinya akan menjawab dan tidak membuatku gelisah setiap malam ketika aku akan tertidur? Lalu apa yang membuat semua hal ini berpengaruh dengan waktu tidurku? Ah stop. Jangan lagi mengucapkan apa. Tidurlah. Tidur. Selamat malam.

Monday, November 10, 2014

Cara Hidup Menurutku

Posted by Karimashita at 12:11 PM
u think? 
2 comments
Aku melihat ketakutanku atas banyak hal. Hal-hal yang mungkin akan dianggap remeh oleh sebagian besar manusia di bumi ini. Aku melihat banyak gambar buram tentang satu atau dua langkah di depanku. Entah itu akan terlihat seperti kabut atau memang jalanan gelap di depan sana.

Semua kekuatan di dalam genggamanku, semua adrenalin yang tidak pernah berhenti mengalir dari kepala hingga kakiku, semua motivasi yang membuat dadaku berdetak sangat kencang hingga kehilangan ritme.
untuk apa semua ini? apakah ini bagian dari hidupku untuk membuatku tetap waras dalam ke-positifan hidup? atau ini adalah tolak ukur dari hal yang mungkin akan tidak bisa aku dapatkan?

Aku tidak gila, hanya merasa perlu untuk memahami dunia ini. melihat betapa dunia memahamiku, memberikan banyak ujian yang membuatku kuat, membuat banyak debu untuk membuatku lebih membuka mata. Badai yang berhenti hanya saat aku berkata, aku siap untuk badai yang lebih lama. 

Aku tidak akan berkata bahwa aku siap untuk jalanan terjal yang lebih panjang, karena aku tidak ingin ini berhenti. Semua latihan yang aku lakukan tiap hari, aku tidak ingin itu berhenti. Aku ingin bisa terbang, hingga benar-benar merasakan awan yang dingin dan basah. Aku mau angin terus mengamuk hingga nanti semua awan mengenal namaku. Aku juga ingin bisa menyelam ke samudra luas, aku ingin semua ikan hiu dan paus bernyanyi akan namaku, atau mungkin lumba-lumba akan membuat sonar yang mengartikan kehadiranku. Kode alam atas nafas dalam hidupku.

Aku juga ingin berlarian seperti rusa emas para legenda, yang berpindah alam hingga tidak ditemukan, dibalik air terjun yang penuh majis. Aku ingin merasakan suara malaikat yang menyanyikan lagu merdu untuk para penjelajah dunia yang berhasil. Aku hanya ingin jalan yang lebih panjang, kaki yang lebih kuat, pundak yang lebih tangguh.

Sunday, November 9, 2014

Masa-Masa yang Hilang

Posted by Karimashita at 2:17 PM
u think? 
0 comments


Mereka bertanya tentang apa yang hilang dari kemanusiaan di jaman ini. Aku ingin menjawabnya, banyak sekali jawaban yang akan aku utarakan kepada mereka, menjelaskan tentang semua hal yang salah terjadi saat ini. Aku ingin menjelaskan kepada mereka tentang semua suara yang tertahan saat ini di bawah tanah.

Untuk beberapa saat, aku mengambil nafas panjang. Kulihat mereka menatapku tajam, terlihat jelas bahwa mereka sangat menantikan jawaban dariku. Melihat wajah mereka yang teduh, seketika lidahku terasa kelu. Sulit sekali mencemarkan keindahan yang ada di dalam diri mereka dengan cerita buruk yang akan aku sampaikan.

Satu nafas panjang lagi, aku hembuskan perlahan dan berat. Mereka kembali menanyakan padaku tentang apa jawabanku. Aku mengangguk. Aku mengerti bahwa pada akhirnya aku akan bercerita.

Dan ini lah aku mulai bercerita…

Kalian ingat, apa yang sangat menarik dari anak-anak kecil? Saat mereka tertawa, berlari, bermain, dan berbahagia setiap saat. Mereka berteman dengan alam dan sesamanya, mereka berbagi senyuman dengan bumi dan malaikat. Saat ini, mereka tidak berlari dan tertawa. Mereka hanya berputar-putar di lingkaran yang sama dengan yang dipaksakan untuk mereka lihat. Tangan mereka menjadi menakutkan, mereka tidak tersenyum dengan sesamanya, mereka memukul dan menyakiti, mereka mencela dan mencaci sesamanya. Dulu, aku mengingat anak-anak kecil yang menyayangi teman-temannya seperti mereka menyayangi kakak dan adiknya di rumah, saat ini mereka tidak lagi menyayangi dengan cara yang sama, mereka menyayangi fisik sesamanya, mereka mengikatkan diri satu sama lain dengan cara yang sama dengan yang dilakukan orang dewasa. Mereka berbicara dan berkelakuan seolah-olah mereka adalah orang dewasa. Mereka tidak lagi membuat embun pagi menyejukkan bunga-bunga.

Kalian ingat dengan remaja-remaja saat lampau? Mereka belajar untuk berbagi, menjelajahi dunia dewasa yang segera akan menjadi dunia mereka. Mereka berlari kencang menggapa hal-hal indah yang mereka rencanakan untuk masa depan. Di jaman ini, remaja berkeliaran, saling menyakiti satu sama lain. Remaja tidak berlarian mengejar cita-cita mereka, melainkan berlarian mengerjar teman-teman mereka dan memukulnya, menyakitinya, dan membunuhnya. Mereka pikir, mereka adalah raja dari semua kebenaran, semua hal diluar kebenaran mereka adalah kesalahan. Mereka membentak orang tua mereka, menyekap orang tua mereka hanya untuk membiarkan mereka ada di dunia tanpa batas tanpa garis penjaga.

Bagaimana dengan orang dewasa? Mereka semua tidak pernah berhenti dan bernafas sejenak. Mereka berlomba demi uang, uang adalah pencapaian hidup menurut mereka. Orang-orang dewasa itu menganggap segalanya akan mereka dapatkan dengan uang. Mereka pergi dari subuh buta hingga malam gelap menghampiri. Mereka tidak menikmati apapun selain uang. Mereka tidak menginginkan keluarga yang bahagia, mereka tidak butuh bercerita dengan anak-anak mereka. Mereka tidak menginginkan makanan-makanan hangat yang enak tiap minggu pagi, mereka hanya makan uang, bercerita tentang uang, dan bersenda gurau dengan uang. Mereka membiarkan para anak kecil menjadi jahat, karena mereka pikir kebaikan hanya milik uang. Mereka membiarkan para remaja menjadi kasar, karena mereka pikir kelembutan hanya tercipta dari uang. Mereka melupakan banyak hal.

Lalu dengan para orang tua yang renta, mereka hidup di keadaan yang menyedihkan. Mereka melewatkan semua kesempatan untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Saat mereka melihat anak kecil yang tersiksa, mereka terlalu menikmati indahnya menjadi remaja. Saat mereka melihat remaja sadis yang saling menyakiti, mereka terlalu menikmati uang. Saat mereka menjadi orang dewasa dengan uang yang banyak, mereka terlalu lama menikmati hingga mereka kaku dan di telan tanah.

Beginilah jaman ini memperlihatkan rupanya kepadaku. Aku akan meminta maaf kepada kalian, yang terlalu lama menghilang sehingga kita semua merindukan jaman yang lama. Saat semua hati adalah hati yang lapang, saat tawa dan senyum adalah air di padang pasir, saat jiwa terisi dengan kasih sayang. Aku juga merindukannya, sebanyak kalian.

Wednesday, November 5, 2014

People and their expectation of life

Posted by Karimashita at 4:29 PM
u think? 
0 comments
I wanna talk about something bothering my mind. Pernahkah anda melihat video clip  Beyonce – Pretty Hurts, jika belum pernah, silahkan klik link berikut ini https://www.youtube.com/watch?v=LXXQLa-5n5w
Di video itu, ada seorang MC yang menanyakan hal seperti ini “What is your aspiration in life?”
Lalu, beyonce menjawab “My aspiration in life would be, to be HAPPY”.

Okay well, to be honest, mungkin sebagian orang akan mengira, apa bagusnya punya cita-cita seperti itu? Tapi, saat pertama kali saya melihat video tersebut, saya tersenyum lama, cukup lama hingga akhirnya saya berpikir bahwa, akhirnya ada yang bisa mengeluarkan statement yang exact same seperti yang saya pikirkan selama ini.

Banyak sekali orang yang saya temui selama ini, mereka memiliki banyak pemikiran tentang hidupnya dan apa yang akan dilakukan nanti saat mereka dewasa, saat mereka lulus kuliah atau saat mereka sudah berumur sekian dan sekian, kebanyakan mereka berpikir tentang pencapaian-pencapaian tentang hidup. Mereka tinggal di ekspektasi yang diciptakan oleh lingkungan dan akhirnya itu menjadi ekspektasi mereka sendiri. Mereka ingin bekerja di sini, di sana, seperti ini, seperti itu, dan sebagainya, mereka lupa bahwa mereka adalah manusia yang tercipta dengan maksud yang lebih besar dari semua itu. Bukankah TUHAN tidak mungkin se-simple itu?.

Mereka terbatasi oleh ruang, waktu, masa lalu, masa kini, masa depan, orang-orang, dan EKSPEKTASI. Mereka berfikir bahwa bahagia adalah bersenang-senang, uang, kekasih yang baik, sahabat-sahabat yang banyak,keluarga yang sempurna atau hal lain. Menurut saya, itu menyenangkan, itu membuat senang, tapi senang adalah bagian dari kebahagiaan, bukan kebahagiaan itu sendiri.
Semakin besar kita membuat kotak tentang ekspektasi, semakin besar pula kita membuat lubang untuk mengubur kebahagiaan kita. Kita menjauhkan diri dari menjadi diri sendiri yang berbahagia.

Lalu apa inti dari semua ini?

Intinya adalah, lakukan semua yang ingin anda lakukan dan berbahagialah. Semua bukan berarti anda tidak punya batasan. Karena tidak terbatas juga bagian dari ekspektasi, menurut saya. Ada cara yang dibuat memang seperti itu seharusnya, misalnya seperti keimanan anda terhadap TUHAN, hal seperti ini tidak bisa anda langgar batasannya. Karena seperti sebuah kelahiran, anda tidak bisa meminta untuk dilahirkan atau tidak, tapi anda bisa memilih untuk hidup seperti apa yang anda inginkan.


Berbahagialah, trust me, I’ve enough knowing jika hidup terlalu menyedihkan jika tidak berbahagia. Uang, fasilitas, dan semua hal-hal itu came as rewards. Enjoy your rewards, but BE HAPPY no matter what. Semua rewards itu adalah bonus untuk kehidupan anda, itu bukan tujuan hidup anda. Jadi saya rasa, saat anda menjadikan reward itu sebagai tujuan hidup anda, anda akan menjadi manusia yang tidak berbahagia. Jangan pernah mengkhawatirkan apa yang mungkin dan akan orang katakan tentang anda, karena sebaik apapun anda, mereka akan menemukan hal buruk untuk dikatakan. Jika anda berbahagia dengan diri dan hidup anda, saya rasa semua orang yang anda sayangi dan anda pedulikan juga akan bahagia, karena hukum alam itu adalah seleksi yang paling adil.

Saya tidak sedang berusaha memotivasi atau menasehati anda tentang sesuatu, saya hanya berbagi tentang suatu hal yang bisa kita pikirkan bersama. Be HAPPY.

Wednesday, October 29, 2014

Opposite

Posted by Karimashita at 1:18 PM
u think? 
0 comments
Orang itu senang sekali mengunjungiku, hampir tiap hari aku bisa melihatnya mendekatiku, melihatku, dan kadang sesekali dia membisiki jiwaku, seolah dia berbicara bahasa yang sama denganku. Bahasa yang selalu diucapkan dengan gerakan bibir, bukan tangan. Dia mengatakan bahwa angin tidak berbahasa, angin hanya berbisik, tapi bagiku, bahasa angin sangat indah, angin berbahasa seperti aku. Angin sering berbicara denganku, mengatakan hal-hal lucu tentang langit.

Beberapa kali dia menegurku, menanyakan keadaanku dengan suara yang sumbang mengikuti caraku berbicara. Dia menuliskan beberapa kata di atas tanah menggunakan ujung jarinya, seolah berusaha menjelaskan keingintahuannya atas diriku dan duniaku. Sangat lucu melihatnya berbicara dengan bahasa seperti itu, aku menyukainya. Aku menyukai kebingungannya atas suaraku.

Hari ini, di hari ke seratus sekian, dia kembali datang, tapi tidak seperti hari-hari sebelumnya ketika dia mendatangiku, kali ini dia tidak tersenyum. Wajah sedih nya terlihat seperti awan mendung di hari yang cerah. Aku tidak menyukainya. Aku kembali teringat akan semua kisah yang pernah dia ceritakan padaku. Dia pernah bercerita tentang A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, dan N. Begitu banyak kisah untuk orang yang tidak memiliki sayap sepertinya. Dia selalu menyombongkan kakinya, dia berkata bahwa berjalan dengan kaki itu menyenangkan, sama menyenangkannya dengan gemericik embun saat fajar. Aku tidak terlalu memahami maksudnya.

Dia diam, tidak mengajakku berbicara atau menggambarkan bahasanya untukku seperti yang biasa dia lakukan. Dia hanya termenung disana dan duduk. Dalam diamnya, aku melihat bunga-bunga berguguran, angin tidak berhembus. Jiwaku menjadi terluka dan kesepian. Dia tidak memberikan air yang cukup untuk diriku hari ini. Setiap lekuk kesedihan di wajahnya, seolah seperti kilat yang menyambar layanganku di angkasa. Menyakitkan.

Mungkin, untuk malam yang beku kali ini, aku mengingat betapa penting suaranya untuk menjaga kupingku dari ketulian, dan betapa penting pandangannya untuk membebaskanku dari kebutaan. Aku kembali menoleh kearahnya, dia bergerak, berdiri. Pumdaknya yang lebar tidak memberiku ruang untuk mendekatinya, tidak seperti sebelumnya. Dia berjalan menjauh, dan menghilang di balik kabut biru dari malam yang tidak berbulan. Mungkin dia terlalu lelah hari ini, terlalu lelah mempelajari bahasaku. Mungkin jika saja dia memberi tahu tentang tempat tinggalnya, aku akan datang sesekali dan bercerita padanya, tapi aku rasa dia tidak mempercayaiku sebanyak aku mempercayainya.

Aku ingat saat dia memberiku apel, dia berusaha menyuruhku menggigitnya, menelannya, dia berkata bahwa itu bisa membuatku hidup dan tidak mati kelaparan. Dia mengajarkanku tentang bentuk bulan yang bulat, padahal seumur hidupku, aku melihat bulan sepeti garis melekuk yang tajam. Dia juga bercerita tentang hujan, dia mengatakan bahwa hujan bisa membuatmu kedinginan, awalnya aku tidak mengerti, karena selama ini aku melihat hujan seperti music yang membuatku menari, dan mungkin itu akan tetap menjadi hal yang tidak bisa aku mengerti sekuat apapun aku berusaha.


Mungkin esok dia akan kembali lagi kesini. Mengajarkanku lebih banyak hal. Dia pernah berkata bahwa mungkin suatu hari dia akan membuatkanku sebuah rumah. Rumah adalah tempat berlindung, katanya. Aku tidak mengerti, bukankah kita terbiasa berlindung di akar-akar pohon? Merasa aman di bawah pohon besar yang kuat?entahlah. Dia mungkin akan mengajarkanku bertapa pentingnya memiliki rumah. Suatu hari, mungkin dia akan benar-benar kembali membuatkan rumah untukku.

Wednesday, October 22, 2014

Reborn

Posted by Karimashita at 4:17 PM
u think? 
0 comments
Sudah lama aku tidak menikmati pagi seperti pagi ini, apa yang berbeda ??

entahlah.. mungkin hari ini matahari tidak berwarna ke-emasan, mungkin hari ini matahari berwarna sedikit ungu atau pink, iya mungkin saja begitu. Cahaya yang masuk ke dalam kamarku juga seperti itu, bukan warna emas, tapi sedikit berwarna pink, terlihat di sudut kasur.

Aku berani bertaruh, hari ini pasti bukan hari normal seperti hari-hari yang sebelumnya, ini bukan hari minggu, atau senin atau selasa, rabu, kamis, jumat ataupun sabtu. Cuacanya sejuk, sejuk seperti jeruk yang segar diambil dari dalam lemari pendingin, sepertinya, ini bulan april, atau mungkin bulan mei.

Aku ingat, sepertinya kemarin aku marah. Sangat marah hingga aku lupa untuk apa aku marah sebesar itu. Kemarin ya? Mungkin dua hari yang lalu, atau minggu lalu, entahlah aku tidak ingat. Kau tahu? Saat hatimu marah semenit, kau akan kehilangan ingatan sehari. Mungkin kemarin aku marah terlalu banyak, hingga aku hilang ingatan beberapa hari.

Aku kembali menghela nafas. Warna pink ini mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang sepertinya penting. Siapa namanya? Aku tidak ingat.

“AAHH!!” Aku kembali menghela nafas kesal. Seandainya kemarin aku marah tidak terlalu lama, mungkin aku ingat banyak hal hari ini.
Dari kejauhan kudengar langkah kaki. Pelan tapi berat. Makin mendekat dan akhirnya pintu kamarku terbuka. Manusia masuk, tersenyum padaku.

“hai.. kau sudah bangun?” suara lembut itu bertanya padaku. Kulihat wajahnya seksama, diakah manusia pink yang aku ingat? Bukan.

“ya.. aku sudah bangun.. baru saja” jawabku dengan lirih. Manusia itu mendekatiku. Wajahnya yang lembut mengingatkanku pada permen kapas, sekali lagi aku yakin, dia bukan pink.

“Bagaimana perasaanmu? Kau ingat padaku, kan?” dia kembali bertanya, masih dengan lembut. Aku menjawabnya dengan gelengan kepala. Tidak, aku tidak ingat padamu, jawabku dalam hati. Awalnya, mungkin aku pikir aku mengenalnya. Tapi tidak.

“Namaku candy.. aku yang selalu mendatangimu tiap hari bahkan saat kamu tertidur. Kau tahu? Kau tidur banyak sekali.” Katanya dengan sedikit tertawa. Candy? Pantas saja dia mengingatkanku pada permen kapas.

“Ya.. kau sering membandingkan aku dengan permen kapas. Padahal aku adalah manusia yang padat.” Dia melanjutkan ucapannya dengan tawa yang lebih renyah. Seolah dia mampu membaca pikiranku. Bagaimana dia bisa tahu tentang permen kapas? Bukankah aku sedang berbicara di dalam otakku?. Dia mendekatiku, lalu duduk di seberang kasurku. Aku mundur dan mengikutinya duduk, tepat di depannya, di kasurku.
“Apa yang kau rasakan tadi saat kau terbangun? Apa yang kau ingat?”

“Warna pink.. aku melihat matahari pink dari sana..” kataku sambil menunjuk jendela. “Aku juga ingat, kemarin aku marah..” dia mengamatiku dengan seksama, wajahnya serius, tidak tertawa.

“Apa yang membuatmu marah kemarin ?”

“Aku tidak ingat.”

“mm….” dia terdiam menunduk lama sekali. Lalu dia kembali menatapku dan melanjutkan kalimatnya. “Kemarin kau marah, bukan kemarin. Sekitar dua bulan yang lalu. Kau marah, kamu beradu argument dengan memori mu. Kau membentaknya karena dia selalu mengingatkan tentang hal-hal yang kau benci.. Kau marah, seperti biasa, kau selalu marah.” Katanya sambil menarik nafas berat. Aku tidak menyukainya. Aku tidak suka dengan perbincangan ini.

“Kenapa aku marah dengan memori? Lalu mengapa memori memaksaku mengingat hal-hal yang aku tidak suka? Itu sama saja dia membuat aku marah. Dia yang bersalah.” Kataku dengan sedikit nada tinggi.

“Tidak ada yang memaksamu mengingat hal-hal yang tidak kau sukai.. Memori hanya membantumu menerima..” Dia kembali berkata lembut. Seolah berusaha membuatku tenang dengan suaranya.

“Menerima apa??!!” Kataku dengan tetap  bernada tinggi.

“Menerima bahwa matahari berwarna abu-abu, bukan pink.. menerima bahwa kau marah, bukan sedang bercerita.. menerima bahwa embun itu tidak seperti jeruk dingin..” Katanya lagi.

“Apa masalahmu?!” Aku semakin kesal. Seolah-olah dia mengingatkan aku bahwa aku tidak normal, atau mungkin sedikit gila. Bahwa yang aku rasakan adalah kesalahan. “Matahari memang berwarna pink, apa masalahmu??!!” aku berteriak.

“Kau kembali marah..” Dia memegang tanganku. Ya, aku marah. Apa masalahnya?. Dia masih memegang tanganku. Untuk beberapa saat aku tidak terlalu marah lagi. Perlahan aku mengantuk. Tangannya seperti obat tidur.


“Kau akan kembali tertidur.. selamat tidur..” Katanya padaku. Aku tidak menjawab, aku terlalu mengantuk. Aku hanya ingat sedikit hal, mereka semua memikirkan warna terbalik, tidak seperti yang aku pikirkan. Aku mengantuk, makin mengantuk tiap detiknya. Aku menoleh ke arah jendela, matahari berwarna pink, aku tidak gila, mereka lah yang sebenarnya gila. Mereka tidak realistis.

Friday, February 7, 2014

Random

Posted by Karimashita at 7:12 PM
u think? 
0 comments
Satu lagi pagi yang hangat oleh fajar yang kekuningan. Hembusan angin pagi yang tercampur sedikit embun. Sesekali ayam tetanggaku berkokok kencang seolah tidak perlu lagi ada suara kokokan yang tersisa untuk pagi selanjutnya. Suara rebut khas pagi hari di dapur juga terdengar samar-samar dari depan sini, wangi nya seperti ikan goring, atau mungkin sambal terasi, ah… pasti ini akan menjadi sarapan yang menyenangkan.

“masuk.. ayo makan dulu…” Ibuku berteriak dari dalam. Sontak aku menoleh dan tersenyum padanya, dia tidak tersenyum membalasku, malahan dia kembali berkata, “kalo kamu malas-malasan saat pagi, maka siang hari nanti kamu tidak akan bersemangat.” Aku kembali tersenyum dan mulai berdiri, membalikkan badanku dan berjalan ke dalam.

“Kau sudah merasa lebih baik bukan?” Ibu kembali bertanya. Aku mengangguk cepat dan tersenyum.

“Bagaimana dengan..”

“Aku baik-baik saja.” Aku menjawab cepat sebelum ibu menyelesaikan kalimatnya. Aku tidak suka drama di pagi hari. Ibu tersenyum sekejap lalu berlalu ke dapur mengambil sarapan untuk kami.

“Ibu masih mengkhawatirkanmu.. Masih belum ingin membicarakannya?” Ibu berbicara sambil berjalan kembali kearahku dengan semangkuk sayur di tangannya. Dengan pelan dia meletakkannya di meja, lalu memegang pipiku.

“Sabar ya.. “ Dia memelukku keras..

“Ibu suapi ya??” Dia kembali bertanya, aku mengangguk.


“Ibu sabar ya… tetap suapi aku sampai nanti aku terbiasa menggunakan kaki ku untuk mengambil sesuatu termasuk makanan..” Lalu ibu mengangguk.. sambil meneteskan airmatanya. Dia mengelus lenganku, maksudnya ujung lenganku. Aku tidak memiliki tangan. Sudah 2 bulan aku kehilangan tanganku. Tapi aku baik-baik saja. Ya.. aku baik-baik saja.

Thursday, January 16, 2014

Mereka Bilang..

Posted by Karimashita at 9:26 PM
u think? 
0 comments
Mereka bilang ini hanya sementara, hanya sekejap hingga semua nya berubah dan hidup kembali memiliki matahari yang hangat.

Mereka bilang tidak akan terasa menyakitkan saat kita tidur dan menganggap bahwa semua nya akan berakhir besok pagi dalam rasa yang lebih menenangkan.

Mereka bilang, tidak perlu khawatirkan rasa menusuk dalam hatimu, fajar tidak selalu jingga keemasan, kadang datang pula dengan sedikit dingin dan kecemasan atas mimpi buruk yang berlalu.

Mereka juga bilang, kupu-kupu lahir dalam kegelapan dan ketakutan akan perubahan, kesendirian dan balutan harapan. Segera setelahnya, semua indah.

Mereka bilang banyak hal padaku, lalu semua hal itu menjadi semakin abu-abu dan buram. Entah kapan matahari yang hangat datang, atau rasa yang menenangkan menjalar di hati, fajar yang jingga keemasan atau kupu-kupu itu terbang. Mereka terlalu banyak bilang padaku, hingga mungkin aku terlupa pada apa yang sebenarnya mereka bilang. Seolah aku membuat realita lain dari apa yang mereka bilang.

Tiap malam saat langit berubah kelam, aku terdiam dalam beberapa helaan nafas, berfikir tentang apa yang berubah esok hari. Sampai kapan aku menggenggam awan yang makin lama makin mencair banyak. Besok akan hujan atau cerah, aku tidak tahu. Aku tidak mengerti.

Mereka terlalu lama berbohong, hingga mungkin lupa mengatakan kebenaran padaku. Bahkan, mereka lupa bilang padaku, aku tidak benar-benar ada disana dan mendengarkan mereka. Aku tidak benar-benar sedang menunggu semua ini berubah. Aku tidak benar-benar nyata.
 

karimashita ♥ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea